» » » Cerita Pendek, Tetes Kepedihan

Advertisement
Cerita Pendek tentang Korupsi judul Tetes Kepedihan - Senangnya membaca karya cerpen adalah selain mendapatkan hiburan kita juga bisa mendapatkan petuah, nasehat dan saran yang cukup bagus untuk diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Seperti pada karya cerita pendek singkat berikut kita akan mendapatkan hiburan sebuah cerita yang menyentuh hati, kisah sedih yang memberikan inspirasi dan motivasi untuk tetap bertahan. Sebuah kisah yang menggambarkan kehidupan nyata, meski fiktif namun penuh makna yang dapat direnungkan. 

Koleksi terbaru ini adalah sebuah cerita pendek yang secara khusus mengangkat kisah dalam kehidupan nyata yaitu mengenai korupsi. Pada kisah berikut kita akan mendapatkan nasehat bagaimana sebaiknya kita memandang sebuah persoalan yang membelit. Dalam kisah berjudul "tetes kepedihan" tersebut bahwasannya kita sebaiknya menjadi pribadi bertanggung jawab dan berani mengakui kesalahan. Betapapun pahit dan getir cobaan, ujian atau musibah yang menimpa pasti ada sisi positif yang akan menjadikan kita lebih baik, jika kita mengambil pelajaran dari kejadian tersebut. Supaya tidak penasaran mari kita baca saja langsung cerpen tentang korupsi selengkapnya di bawah ini.

Cerpen Korupsi, Tetes Kepedihan
Oleh Siti Marwiyah

Tidak pernah ku sangka sebelumnya hidupku akan mengalami pergulatan yang begitu keras. Saat pepohonan sedang benar-benar merindang, saat tanah sedang gambut, cuaca kehidupan kami sekeluarga berubah menjadi badai. Di mulai dari cobaan yang hampir semua orang mengatakan bahwa itu hukuman, sampai sebuah kebetulan kecil yang merenggut semua bahagia.

Keluarga kami sebelumnya sangatlah bahagia, ayah bekerja sebagai salah satu pegawai pemerintahan sedangkan ibu berkarir di salah satu maskapai penerbangan. Aku dan kakak hidup dengan berkecukupan, bahagia setiap pekan bisa liburan kemana suka. Tapi karena satu perhitungan kecil yang meleset akhirnya semua itu menjauh.

Dimulai dari perasaan kecewa kami karena ayah dan ibu telah berubah, tak lagi hangat seperti dulu, mereka selalu saja berada di luar mengutamakan bisnis dan pekerjaan. Hingga kami akhirnya mulai di rundung kejenuhan, ada perasaan memberontak dalam hati kami. 

“Buat apa hidup kecukupan kalau untuk bertemu orang tua sendiri saja susah”
“Iya kak, ayah ibu sudah berubah, dulu mereka tidak pernah marah dan selalu ada…”

Kami hanya bisa menghela nafas panjang untuk menutupi rasa kecewa dan pengharapan kami yang tak kunjung tercapai. Hingga akhirnya, bentuk fikiran dan perasaan kami telah berubah, kami mengadopsi pikiran dari kekuatan pergaulan kami dan kami tak lagi begitu peduli pada mereka.

Seiring waktu berjalan, kami sudah tak bergantung lagi pada harta, kami tak lagi memandang harta sebagai sesuatu yang bisa dibanggakan dan disombongkan karena kami tahu harta tak bisa mengisi kekosongan hati kami selama ini.

Orang tua kami telah mengajarkan untuk menggantungkan semuanya pada harta, uang, tapi selama ini kami belum pernah mendewakan harta atau uang. Pernah sekali kami benar-benar berharap uang bisa menghadirkan keceriaan sebuah keluarga tapi kami harus kecewa. Sejak itu uang tidak ada nilainya lagi bagi kami, kami tak peduli.

Tuhan memang maha adil, saat perasaan dan pikiran kami sudah benar-benar kuat kokoh akhirnya Tuhan mulai membersihkan dan melucuti semua dosa-dosa kami – tepatnya dosa-dosa kedua orang tua kami. Pertama, atasan ayah tersandung masalah korupsi dan akhirnya ayah pun terseret ke dalam meja yang sama. Wajar, sebagai bawahan ayah juga sudah masuk dalam lingkaran syetan itu. Terpukul, sudah pasti namun aku meyakinkan diriku bahwa ini adalah sebuah proses pendewasaan hidup.

Belum selesai masalah tersebut, suatu hari kakak mendapati bunda berduaan dengan seorang pria, budan berdalih itu rekan kerja tapi kami tahu ada kebusukan dibalik tatap mata yang biasanya meneduhkan tersebut. Sejak saat itu keadaan rumah bak neraka, tapi aku tak peduli, yang aku khawatirkan hanyalah saudaraku karena sebagai orang yang sadar aku juga harus memastikan bahwa saudaraku memiliki satu pandangan denganku terhadap semua yang sedang terjadi.


Kami sudah benar-benar ikhlas karena kami tahu benar bahwa apa yang dikerjakan orang tua kami memang sudah keluar jalur, aku dan kakak harus merelakan mereka di hukum agar mereka bisa menjadi pribadi yang baik. Biarlah, untuk beberapa tahu ke depan kami tinggal di rumah teman kami yang berbelas kasih terhadap kejujuran kami saat itu. Semoga ayah dan ibu segera mendapatkan hikmah dan menjadi pribadi yang lebih bermanfaat.

--- Tamat ---


Ada ketegaran, keikhlasan dan sikap kesatria yang ditunjukkan oleh tokoh "aku" dalam cerpen singkat tersebut. Tokoh ini menggambarkan ketegaran, kesabaran dan keikhlasan yang begitu besar dan patut di contoh. Bahkan seolah digambarkan bahwa sang "aku" benar-benar bisa melihat hikmah di balik bencana yang sedang dihadapi. Mudah-mudahan cerita pendek tetes kepedihan tersebut bisa berkenan di hati kita semua.

About Cerita Inggris Indonesia

Hi..! Cerita Inggris Indonesia adalah website yang berisi berbagai macam cerita dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Disini ada cerpen, cerita rakyat, drama, cerita anak, narrative, legenda, cerita lucu dan banyak lagi cerita lainnya. Silahkan baca mana yang anda suka, terima kasih telah berkunjung...
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post