Apa ya, tak tau lah, sebuah kisah yang mungkin bisa menjadi bahan belajar dan renungan kita semua. Kisah yang tidak di ada-adakan atau di besar-besarkan, hadir dari perjalanan yang memang semua mengalami.
Kata yang satu ini, untuk sebagian orang, memang cukup tabu, bukan tanpa alasan "cinta" menjadi sesuatu yang menghancurkan masa depan jika tidak disikapi dengan baik, apalagi untuk para remaja.
Yang akan kita baca pada kesempatan ini adalah sebuah kisah yang terinspirasi dari kisah nyata yaitu Cerpen Cinta Singkat, Surat Ijin Mencinta. Cepen cinta singkat ini berisi kisah tentang "cinta monyet" yang dialami oleh pelajar SMP.
Ceritanya cukup lucu, menggelikan namun tetap menghibur bagi kita yang membaca. Berkisah mengenai pelajar, gaya penceritaan dari cerpen ini pun sangat sederhana.
Bahasa yang ringan dan cerita yang tidak begitu kompleks menjadikan Cerpen Indonesia berjudul "Surat Ijin Mencinta" ini cocok untuk hiburan di waktu senggang. Yang berminat silahkan lanjutkan membaca ceritanya di bawah ini.
"Kata mama aku belum boleh berbicara mengenai cinta-cintaan, masih terlalu kecil, tidak baik." Sebagai anak yang menurut dan baik ia selalu ingat dengan nasehat yang diberikan orang tua nya tersebut. Ya, meski mereka tak mengetahuinya namun ia membuktikan, menuruti apa yang mereka inginkan dan berusaha menjauh dan menepis rasa cinta.
Pernah suatu kali ini dilanda kegelisahan, meski tak yakin apakah itu yang dinamakan cinta namun ia selalu merasakan gelisah dan ingin bertemu dengan teman barunya tersebut. Seorang gadis pindahan yang baru masuk ke sekolahnya, berrambut panjang dikuncit dua, matanya yang tajam dan senyumnya yang sedikit benar-benar membuat hatinya berdebar kencang.
Anak lain tak tahu apa yang ia rasakan, hanya sesekali ada yang menertawakannya ketika ia harus mandi peluh ketika berhadapan dengan Nikitamili tersebut. Ya, teman baru yang selalu membuat dia grogi bernama Nikitamili.
"Aku harus bagaimana, seandainya saja engkau tahu apa yang aku rasakan..., dan andai saja orang tuaku tahu bagaimana rasanya...", entah kepada siapa ia mencoba mengadukan rasa itu.
Makan pun tak enak
"Ini bukan salah ku bunda, aku sama sekali tak pernah berencana memiliki rasa seperti ini...!" ia berkata suatu kali saat diomeli oleh ibunda nya.
"Bunda tidak tahu seberapa menderitanya aku seperti ini, seharusnya bunda menolongku bukan memarahiku", lanjut nya sambil pergi meninggalkan ibunda nya yang tetap saja memarahi nya.
Ia benar-benar menyadari kesalahan itu, kesalahan tidak menuruti nasehat namun ia juga belum mampu mengendalikan diri, ia tak tahu bagaimana cara menekan perasaan seperti itu. Hari berganti, ia semakin larut dalam khayalan itu. Semakin lama ia semakin terbuai dengan keajaiban cinta yang sedang ia rasakan.
Saat itu ia masih di bangku sekolah, di pelajar SMP sementara Nikitamili adalah seorang pelajar SMA. Mereka bisa kenal, bisa menjadi teman karena sekolah mereka berada pada satu lokasi.
Dear kertas,
Meski sudah selesai namun sepertinya surat itu belum selesai, terdiri dari dua alinea, kertas itu seperti bukan untuk ditujukan untuk di kirim ke Nikitamili. Mungkin memang bukan, itu hanya bentuk dari sebuah kegelisahan yang sedang ia alami.
Tak bisa disalahkan sepenuhnya memang, meski ia juga benar-benar tak menginginkan untuk suka namun semua itu terjadi begitu saja. Dengan hati berdebar ia terus menjalani hari dengan senyuman, sepertinya ia bahagia namun terlihat begitu ceroboh.
Dengan yang dirasakan ia sekarang susah berkonsentrasi, terkadang terlalu bersemangat dan tak bisa mengendalikan diri. Waktunya belajar serius ia malah tersenyum sendiri membayangkan senyum Nikitamili yang begitu manis.
Bahkan suatu hari ia pernah sampai dimarahi oleh guru karena tidak fokus. Saat itu guru matematika telah memberikan pelajaran, bukannya mendengarkan ia malah membuat puisi. Memang si masih ada hubungannya dengan angka-angka tapi puisi itu benar-benar bukan pelajaran MTK yang sedang diikuti.
Meski kau lebih tua
Di marah guru, sang guru tahu gelagat tidak baik maka dia mendekatinya yang sedang menulis. Bukannya pelajaran malah sang guru mendapatinya sedang menulis puisi cinta. Tak pelak lagi, ia dihukum, "angkat kaki kanan pegang telinga kiri!" bentak sang guru seketika.
Tak hanya itu, sebagai hukuman ia pun diminta bertanya kepada kepala sekolah tentang apa yang sedang terjadi pada dirinya, dari pertanyaan tersebut ia harus mencatatnya, ia harus menulis nasehat dari kepala sekolah. Setelah di tulis ia harus meminta tanda tangan dari orang tuanya di kertas itu. Terakhir dia harus membuat pernyataan tidak mengulangi kesalahan.
Semua hukuman itu harus dibuat dan ditempel di majalah dinding (mading) sekolah selama satu minggu. Terakhir ia harus menceritakan yang ia dapat dari hukuman tersebut, ia harus menceritakan didepan kelas, apakah kesalahannya, apa cara memperbaikinya dan bagaimana akibat buruk yang ditimbulkan dari kesalahan yang dilakukan.