» » » » Cerpen Singkat Gadis Idaman Dua Bahasa

Advertisement
Cerpen Singkat Gadis Idaman Dua Bahasa. Masih melanjutkan seri Kumpulan Cerpen Cinta Inggris dan Terjemahan berikut akan kita baca bersama-sama sebuah cerpen singkat yang berjudul Gadis Idaman dalam dua bahasa yaitu Inggris dan Indonesia. 

Seperti cerita-cerita sebelumnya, cerita cinta berikut sengaja dimuat dalam dua versi untuk memberikan kemudahan bagi kita semua dalam mengikuti alur ceritanya; yang ingin membacanya dalam bahasa Indonesia dapat membaca versi Indo sedangkan yang ingin membaca bahasa Inggris dapat membaca versi terjemahannya. 

Cerpen Singkat Gadis Idaman dalam Bahasa Indonesia

Cerita ini ditulis asli menggunakan bahasa Indonesia jadi versi pertama yang akan kita baca adalah versi Indonesia. Perlu disampaikan, cerita berikut dishare disini hanya untuk saling berbagi dan untuk kepentingan belajar semata. Yang sudah tidak sabar silahkan langsung baca cerita selengkapnya berikut!

Gadis Idaman
Dahi yang ditumbuhi sebuah jerawat tampak lebih mengkilat dari biasanya. Sinar lampu sorot dari atas balkon yang mengarah ke altar yang telah membuat lebih indah sesuatu yang sebenarnya memang sudah tampak indah. Seorang gadis di deretan bangku depan dengan mata besar dan alis yang lebat sudah lama memikat hatinya. Dia selalu melihat ada kilat basah pada kedua matanya itu. Dia yakin kalau gadis itu selalu berdoa dengan sungguh-sungguh. Pun ketika melantunkan lagu-lagu pujian. Tampaknya ada semacam kerinduan yang mendalam dari gadis itu kepada Tuhan. Lantas dia merasa harus mengenal gadis itu sesegera mungkin. Ya, sesegera mungkin.

"Shalom," sapanya sembari tersenyum ketika gadis itu baru saja hendak mendaratkan sebelah kakinya dari anak tangga ke lantai dasar. Degup jantung lantas dirasa lebih cepat, sebab sebentar lagi dia akan bisa memandang mata besar yang senantiasa basah dan dahi yang tampak berkilat dengan sangat jelas.

“Shalom.” Gadis itu kaget dan tersipu. Sungguh pemandangan yang terjadi seperti dalam film-film romantis tahun 70an di mana istilah malu-malu kucing atau jinak-jinak merpati sering didengar. Hanya saja ada sebuah pertanyaan membuat segalanya berbeda.

“Ada apa, Kak?”

Lelaki muda itu menelan ludah sebelum bercerita panjang lebar tentang ketertarikan dirinya kepada gadis itu. Terlebih dia sudah berulang kali melihat gadis itu menangis ketika berdoa. Lantas dia mengulurkan tangan sambil menyebutkan nama sambil berharap gadis itu pun melakukan hal yang sama.

“Anjas.” Sekali lagi diucapkan namanya. Kali ini terasa lebih tegas karena gadis itu tak menyambut uluran tangannya terlebih mengucapkan nama. Dan dia kembali termangu ketika tiba-tiba yang dihadapinya hanyalah kekosongan, karena gadis itu berlari menjauh.

Minggu berikutnya, dia masih menjumpai pemandangan yang sama. Gadis di deretan bangku depan, hanya saja jerawat di dahinya sudah tidak ada. Makin sempurna kecantikannya, demikian pikirnya. Tiba-tiba dia seperti disadarkan sudah beberapa minggu dia datang ke gereja untuk melihat gadis itu dan hal itu membuatnya tidak khusyuk berdoa kepada Tuhan. Pandangannya kini menghujam di lantai keramik. Di depan, pendeta yang sedang berkotbah mengumumkan ‘altar call’. Dan ujung matanya menangkap gadis itu beranjak dari bangkunya.

“Shalom, Kak Anjas.”

Dia dikejutkan dengan sapaan yang pernah didengarnya. Hanya saja kali ini ada nada riang dari sapaan itu, tidak seperti waktu dia mendengar jawaban yang terbata-bata dan penuh kemuraman. Dilihatnya gadis idamannya sudah berdiri di depannya dan mengulurkan tangan kepadanya. Menanti disambut.

“Hana.”

Demikianlah sebuah nama meluncur dari bibirnya. Dia masih tidak percaya. Matanya menatap ke arah mata besar yang masih menyisakan kilat basah karena menangis. Perlahan tapi kemudian menjadi gerak yang cepat dan agak tergopoh, dia menyambut tangan gadis yang kini telah bernama baginya.

“Shalom, Hana.”

Senyumnya pun mengembang. Tangan yang dijabatnya kemudian terasa terayun ke belakang, tanda minta dilepaskan dari jabatan tangannya, membuat dia merasa malu telah terlena.

Tak lama keduanya pun mulai bertukar kisah tentang berapa lama berbakti di gereja itu, sekolah di mana, dan keluarga dengan akrab. Sementara di luar, angin yang membawa awan mendung melempar-lempar sebuah daun dari jalan ke halaman gereja.

***

“Aku ingin kamu mendengar sebuah cerita, Mas.”

Hana menatap Anjas dengan tatapan yang sangat memelas. Yang ditatap merasa sangat kaget dengan tatapan seperti itu. Seharusnya suasana di antara mereka berdua adalah suasana yang indah, karena kurang dari tiga bulan lagi Anjas berjanji akan membawa keluarganya untuk meminta Hana sebagai istrinya.

“Tapi sebelumnya, aku minta kamu berjanji untuk tidak marah.”

Mendengar kalimat kedua yang keluar dari mulut kekasihnya membuat ia berpikir bahwa Hana akan menyampaikan sesuatu yang buruk. Sesuatu yang bisa dianggap sebagai rahasia seorang gadis semanis dia. Dia mencoba menatap dalam-dalam ke mata Hana yang masih memancarkan rasa cemas.

Lidahnya terasa kelu untuk mengiyakan atau menolak permintaan Hana. Dia masih berpikir Hana akan membuat satu pengakuan. Mungkin pengakuan yang pernah dia dengar dari kawan-kawannya tentang seorang gadis yang mengaku kalau dirinya tidak perawan lagi ketika hendak menikah. Dia menarik nafas dalam-dalam. Sungguh, dia tidak punya alasan untuk marah atau tidak. Dan dia pun tidak mengerti apakah dia harus kecewa atau menghadapi hal semacam itu dengan biasa-biasa saja. Lagi-lagi dia hanya bisa menatap mata Hana. Sepasang mata yang bulat besar dan selalu memancarkan kilat basah. Mata yang telah mengikatnya pada enam bulan perjalanan cinta gadis dan jejaka.

“Apakah …”

Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Dia tidak mampu bertanya lebih lanjut. Sejujurnya dia menunggu reaksi dari dirinya sendiri apabila sangkaannya itu benar adanya. Mata itu masih menatap lekat kepadanya. Pasrah. Benar-benar basah.

Dilihatnya Hana pun hanya mengangguk lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela. Cahaya matahari membuat wajahnya tampak lebih terang. Dia menghela nafas panjang. Seperti tengah melepas beban yang sangat berat. Tapi kemudian yang terjadi adalah Hana berdiri dan melangkah ke arah pintu.

“Kak. Kenapa kamu tidak bertanya apa yang membuat aku tidak perawan lagi?”

Hana mulai menangis. Sementara dia menduga Hana, dengan pertanyaannya itu, sudah pasti menganggapnya egois. Sama seperti lelaki lain yang menginginkan gadis idamannya masih dalam keadaan suci ketika dinikahi. Seperti Shinta, seorang dewi yang dijaga kesuciannya selama diculik oleh raja raksasa Rahwana dan juga lolos tanpa luka di hari pembakaran api suci oleh suaminya Rama. Padahal dia hanya merasakan kebimbangan untuk bersikap. Apakah dia akan mencontoh kelembutan ucapan Isa saaat bertemu seorang pelacur Samaria di tepi sumur atau ia akan ikut menangis bersama calon istri yang dicintainya dan menganggap dunia memang begitu jahat.

Dia membiarkan Hana melangkah keluar rumah tanpa berusaha mencegahnya. Dia tidak ingin merusak kesedihan, karena kesedihan adalah ruangan yang paling dekat dengan ruang Tuhan. Maka dibiarkannya Hana membawa pulang kesedihannya sebagaimana dia mengundang masuk kesedihannya sendiri ke dalam hati.

Pagi hari, ketika dia mencabut charger telepon genggamnya, dia menemukan sejumlah pesan pendek yang belum terbaca. Semuanya dari Hana. Salah satu pesan pendek yang membuatnya begitu bahagia adalah tentang doa dan pengampunan dari Hana untuk orang-orang yang telah memperkosanya beberapa tahun silam. Kini dia tahu betapa Hana lebih baik dari wanita-wanita yang pernah dia baca kisah-kisahnya. Hana baginya adalah gadis idaman yang paling dia dambakan.

Cerpen Singkat Gadis Idaman Versi Terjemahan bahasa Inggris

Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena cerita versi bahasa Inggris untuk cerpen singkat di atas belum dapat diberikan pada kesempatan ini. Sebagai gantinya berikut silahkan baca terlebih dahulu versi terjemahan dari cerita tersebut.

The Ideal Girl
A covered forehead acne looks more shiny than usual . Beam spotlights from above the balcony that leads to the altar which was made ​​more beautiful something is actually already looks beautiful . A girl in the front pew with big eyes and bushy eyebrows that had long captivated his heart . He always saw no flash in both eyes were wet . He was convinced that she was always praying earnestly . Even when chanting hymns . There seems to be some sort of deep longing of her God . Then she felt she had to know it as soon as possible . Yes , as soon as possible .

" Shalom , " she said with a smile when she was just about to land the foot of the stairs to the ground floor . Then the heartbeat is felt more quickly, because soon she will be big eyes that always look wet and shiny forehead that looks very clearly .

" Shalom . " She was shocked and embarrassed . It was like a scene occurs in romantic films in the 70s where the term coy or tame - tame pigeons are often heard . It's just that there is a question made ​​all the difference .

"What's up , brother?"

***Bersambung***

Sebelum saya akhiri, cerita terjemahan bahasa Inggris diatas hanya cuplikan saja, bagi rekan yang ingin membaca secara lengkap cerita tersebut dalam bahasa Inggris silahkan baca cerita lengkapnya melalui tautan berikut!

Baca Terjemahan 
Cerpen Gadis Idaman 

Cukup sampai disini saja saya menghantarkan sebuah cerita cinta romantis tersebut di atas. Semoga saja cerita berjudul gadis idaman tersebut dapat menghibur rekan semua dan dapat menjadi inspirasi bagi kita semua.



Nantikan cerita cerpen singkat dua bahasa lain yang akan segera dibagikan hanya di blog cerita Inggris Indonesia. Sampai disini, sampai jumpa pada episode cerita selanjutnya.

About Cerita Inggris Indonesia

Hi..! Cerita Inggris Indonesia adalah website yang berisi berbagai macam cerita dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Disini ada cerpen, cerita rakyat, drama, cerita anak, narrative, legenda, cerita lucu dan banyak lagi cerita lainnya. Silahkan baca mana yang anda suka, terima kasih telah berkunjung...
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post