» » » Cerpen Cinta Terbaru Cincin Kawin

Advertisement
Ada satu lagi cerpen cinta singkat terbaru yang akan kita nikmati bersama-sama, cerpen ini berjudul "Cincin Kawin". Cerpen terbaru tersebut mengisahkan sebuah cinta yang terwakilkan dengan adanya sebuah cincin pernikahan. Begitu beratnya beban hidup yang harus dijalani membuat pemiliknya dengan berat hati menggadaikan lambang cinta tersebut.

Seperti biasa cerpen cinta terbaru tersebut akan dikemas dalam dua bahasa yaitu bahasa asli Indonesia dan versi bahasa terjemahan yaitu bahasa Inggris. Versi pertama adalah cerita dalam bahasa Indonesia dan versi berikutnya adalah cerpen cincin kawin dalam bahasa Inggris.

Cerpen Cinta Terbaru Cincin Kawin Versi Bahasa Indonesia

Untuk kita yang asli menggunakan bahasa Indonesia dapat langsung menikmati cerita sedih dalam cerpen tersebut dalam versi aslinya berikut ini. Sebagai syarat sebelum membaca cerita tersebut jangan lupa siapkan posisi senyaman mungkin dengan berbagai peralatan pendukung seperti cemilan dan minuman ringan kesukaan... J

Cincin Kawin

Dia masih memandang jejak putih di jari manisnya. Jejak berbentuk garis melingkar yang berwarna lebih putih dibandingkan kulit coklatnya. Jejak itu ditinggalkan oleh sebentuk cincin yang pernah melingkari jari manisnya itu. Sebentar di ruangan yang hanya terdengar suara berita dari televisi itu terdengar hela nafasnya. Sepertinya dia benar-benar merasa kehilangan.

***

"Apa perlu kita gadaikan dulu Bu, cincin ini?" Ditatapnya lekat mata istrinya yang sejak tadi mengeluh tentang beras yang sudah habis, susu anak yang belum terbeli, dan tagihan yang menumpuk di atas meja. Hanya itu usul yang tercetus setelah dia berpikir keras tentang cara mendapatkan uang untuk memenuhi keluhan Sang Istri.

"Janganlah Pak. Hanya itu satu-satunya perhiasan yang kita punya. Lagipula itu 'kan cincin pernikahan. Tidak baik jika digadaikan." Sebenarnya dia juga tidak tega jika tanda pernikahan mereka tak lagi terpasang di tempatnya. Di jari manis tangan kanan suaminya. Keduanya masih muda. Umur tigapuluhan. Wajah suaminya, meskipun biasa-biasa saja, tapi masih terlihat muda. Wajar jika ia bisa dikira masih bujangan.

"Tapi Bu? Kita sudah sangat terdesak. Besok orang bank pasti sudah datang menagih hutang."

Akhirnya dari mulut mungil Si Istri terdengar kalimat pendek tanda pasrah. Dia juga sudah tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi kondisi ekonomi rumah tangganya. Sejak dia hamil dan sering terjadi pendarahan, suaminya menyarankan agar dia berhenti bekerja dan total menjadi ibu rumah tangga. Sejak itu pula dia hanya bergantung pada penghasilan suaminya.

"Terserah Bapak sajalah."

Maka pada pagi harinya, sebelum sampai di kantor, dia datang ke pegadaian. Dipandanginya flag chain di dalam ruangan berwarna hijau itu yang bertulisan "Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah." Di bibirnya tiba-tiba tersungging sebuah senyuman. Betulkah ada masalah yang bisa selesai tanpa menimbulkan masalah lain? Apakah sebuah ketenangan setelah membayar hutang dengan berhutang bukan sebuah masalah? Dia tahu benar bahwa setelah pergi ke tempat ini, dia harus segera mencari pekerjaan sampingan atau mengirimkan puisi dan cerita pendek ke berbagai surat kabar agar mendapat uang guna mengambil kembali barang jaminan.

Tapi ini kali pertama dia ke pegadaian. Dengan cermat dia memperhatikan bagaimana cara seorang meminjam uang. Dia mengikuti apa yang dilakukan oleh seorang di depan dia yang menuliskan sesuatu pada sebuah formulir dari kertas fotokopian di sebuah meja kecil. Dan tak lama sesudahnya, ia pun ikut-ikutan menyerahkan form dan cincin kawinnya pada seorang petugas di pojok kanan meja layanan. Lalu dengan cemas memandang jam dinding yang telah menunjukkan pukul delapan lebih, dia duduk di antara kerumunan ibu-ibu yang entah menunggu apa.

Sekali lagi dia menghela nafas panjang. Ada semacam kelegaan karena tak lama kemudian orang yang tadi berada di depan dia sudah dipanggil untuk ditaksir jumlah pinjamannya. Pasti tak lama lagi, pikirnya. Dan benar juga, dia pun akhirnya dipanggil.

"Tujuh ratus ribu, ya Pak?"

Dia sedikit terkejut. Antara mengerti bahwa cincin kawinnya ditaksir senilai tujuh ratus ribu dan sedih karena cincin yang dulu dibelinya seharga satu juta lima ratus ribu hanya dihargai segitu saja. Tapi dia tidak punya pilihan, uang sebanyak tujuhratus ribu sudah cukup untuk membayar tagihan, membeli sekaleng susu, dan 10 kilogram beras.

"Ya," tukasnya cepat dan pendek seketika dia tersadar dari kemelut pikiran di dalam kepalanya.

***

"Sisanya tiga ratus ribu, Bu."

Di depan istrinya, dia menyerahkan enam lembar pecahan limapuluh ribu ke tangan istrinya. Istrinya tampak kecut. Dia mengira istrinya tidak bisa terima dengan upayanya.

"Kamu kenapa, Bu?" Dia mencoba mencairkan suasana.

"Tidak ada apa-apa." Pendek saja jawabnya. Dia berpikir keras apa yang sedang dipikirkan istrinya terhadap dia setelah dia menggadaikan cincin kawin itu.

"Maafkan aku, Bu. Aku belum bisa membahagiakan kamu dan anakmu." Dia berusaha menyentuh perasaan istrinya dengan kalimat-kalimat yang tampak pasrah.

Istrinya tetap tidak menjawab. Yang dilakukannya adalah menyimpan uang itu di lemari, dan segera menyusul anaknya yang tertidur di kamar.

Dia kembali menghela nafas. Membuka kemejanya dan melangkah ke arah belakang. Mandi.

***

Seorang gadis duduk di sebelahnya di bus kota. Gadis yang manis. Rambutnya yang panjang tergerai sesekali menerpa pipi, leher dan pundaknya karena tertiup angin. Menyisakan wangi entah syampu atau sejenis vitamin rambut. Dia menoleh ke arah gadis itu.

"Maaf," gadis itu segera merapikan rambutnya. Mengikatnya ekor kuda.

"Tidak mengapa," jawabnya pendek. Dalam hatinya dia menyukai wangi yang terhirup olehnya. Dia begitu ingin menciumnya lagi. Diliriknya gadis itu baik-baik. Memang cantik, pikirnya. Jemari tangan kirinya menyentuh jari manisnya. Kosong. Tidak ada cincin kawin di situ.

"Boleh kenalan?" Ujarnya tiba-tiba.

***

Cerpen Cincin Kawin Versi Terjemahan Bahasa Inggris

Here is a translation of the love story that you have read before. Please enjoy the latest romantic love stories below. Do not forget to read the other stories that have been written previously on this site.

Wedding Ring

He still looked white traces on her ring finger . Traces a circle -shaped white -colored skin than brown . The trail left by a ring which once encircled the ring finger . Briefly in the room that only the sound of the television news that sounds hela breath . Looks like he really felt lost .

+ + +

" What we need first mortgaged Mom , this ring ? " He stared intently into her eyes , who had been complaining about the rice is finished, children who have not bought milk , and bills piling up on the table . The only proposal that sparked after he thought hard about how to earn money to meet the wife complaints .

" Do not sir . Only it was the only jewelry that we have . Moreover it right wedding ring . Not good if mortgaged . " Actually he did not have the heart if their marriage is no longer a sign is in place . In her right hand ring finger . both still young . Thirties . Her husband 's face , though unremarkable , but still looks young . Naturally, if he could be mistaken still single .

" But Mom ? We're so desperate . Tomorrow the banks would have come to collect the debt . "

Finally, from tiny mouth wife Si short sentences sounded resigned mark . He also can not do anything to address the economic conditions of the household . Since she was pregnant and frequent bleeding , her husband suggested that she stop working and be a housewife total . Since then, he just relies on her husband's income .

" It's up to Father alone . "

Then in the morning , before arriving at the office , he came to the pawnshop . He looked flag chain in the green room that read " Without Solving Problems . " On his lips suddenly flashed a smile . Is it true that there is a problem that can be completed without causing other problems ? Is a calmness after

paying off debt with debt is not a problem ? He knew very well that after going to this place , he should seek a second job or submit poems and short stories to various newspapers to earn money to take back the collateral .

But this is her first time to the pawnshop . Carefully he noticed how the borrowed money . He followed what was done by one in front of him who wrote something on a form of paper photocopied at a small table . And shortly thereafter , he went along with submit the form and a wedding ring on officers in the right corner desk . Then anxiously looking wall clock that has been demonstrated at eight , he sat among a crowd of mothers who were either waiting for what .

Once again he sighed . There was a sort of relief because not long after the person who had been in front of him had been called to assess the amount of the loan . Certainly no longer, he thought . And sure enough , he was finally called.

" Seven hundred thousand , yes sir ? "

She was a little shocked . Between understand that the wedding ring worth an estimated seven hundred thousand and sad because the ring once bought for one million five hundred thousand only appreciated much for it . But he had no choice , as many as seven hundred thousand money is enough to pay bills , buy a can of milk , and 10 kilograms of rice .

" Yes , " he said quickly and once he woke up short of chaos thoughts in his head .

+ + +

" The remaining three hundred thousand , ma'am . "

In front of her , she was handed a six- sheets fifty thousand shards into the hands of his wife . His wife looked wryly . She thought she could not accept the efforts .

" What's the matter , Mom ? " He tried to break the ice .

" There is nothing . " Short answer . He thought hard what he was thinking of his wife against him after he pawned the wedding ring .
" I'm sorry , ma'am . Could I not happy you and your son . " He tried to touch her ​​feelings with sentences that seem resigned .

His wife still did not answer . It does is keep the money in the cupboard , and soon after his son who was asleep in the room .
He sighed again . Opening his shirt and walked to the rear . Bath .

+ + +

A girl sitting next to him on a city bus . Sweet girl . Her long hair flowing occasional dash cheeks , neck and shoulders due to the wind. Fragrant leaves either syampu or similar hair vitamins . He turned to the girl.

" Sorry , " the girl quickly smoothed her hair . Tied in a ponytail .

" Never mind , " he said shortly . In her heart she loved him terhidu scent . He so wanted to kiss her again . He glanced at the girl carefully. It's beautiful , he thought . The fingers of his left hand touches the ring finger . Empty . No wedding ring on it .

" Perhaps acquaintance ? " He said suddenly .

About Cerita Inggris Indonesia

Hi..! Cerita Inggris Indonesia adalah website yang berisi berbagai macam cerita dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Disini ada cerpen, cerita rakyat, drama, cerita anak, narrative, legenda, cerita lucu dan banyak lagi cerita lainnya. Silahkan baca mana yang anda suka, terima kasih telah berkunjung...
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post